Hak Cipta © 2015-2017 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Hasil Dari Memulung, Nur Fadli Sukses Bangun 10 Sekolah Gratis

Sosok Nur Fadli, yang menghargai arti pendidikan  patut diacungi jempol. Berkaca dari pengalaman pahit masa kecilnya, Nur Fadli, akrab disebut dalam sehari-harinya Gus Fadli, merupakan seorang mantan pemulung di Kota Jember, yang akhirnya bisa mendirikan 10 sekolah gratis di kawasan Lereng Gunung Argopuro. Bukan dari harta yang melimpah namun dari niat dan kepeduliannya terhadap masa depan anak – anak di daerahnya tersebut, perlahan Fadli membangun sekolahnya yang dikhususkan bagi kalangan yang tidak mampu dengan biaya sendiri dari hasil usahanya merongsok.

Sejak sepuluh tahun lalu Fadli merintis sebuah sekolah di Desa Bintoro, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Bagi ayah dua orang anak itu, membangun sekolah bukan perkara mudah. 

Kesulitan yang dia dapatkan di masa kecil justru membuat tekadnya kian tebal. Tumbuh besar di keluarga miskin nyaris membuat Fadli menjadi orang yang gelap ilmu. 

Sejak kecil, ia merelakan putus sekolah untuk membantu kedua orang tuanya untuk menyambung hidup dengan menjadi pemulung rongsokan. Setelah mandiri dan dapat mencari nafkah, ia pun memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi dan Pada tahun 2000 dia mendaftarkan diri ke Fakultas Hukum Universitas Islam Jember (UIJ).

Berangkat dari pengalaman, ia yang merupakan perintis dan pendiri sekolah Madrasah Ibtidaiyah Terpadu ini, bertekad untuk mendirikan sekolah bagi mereka yang kurang mampu. Berkat integritas dan etos kerjanya usaha Fadli berbuah hasil, hingga saat ini sudah ada 10 sekolah yang ia dirikan mulai dari Madrasah Ibtidaiyah(MI), Madrasah Tsanawiyah(MTs), hingga Madrasah Aliyah(MA) yang bertempat dilokasi Lereng Gunung Argopuro.

Fadli tidak mengelak jika awalnya sekolah-sekolah itu dibilang didirikan secara ilegal. Artinya, tidak ada akreditasi maupun ijazahnya tidak diakui. Namun, baginya show must go on. Dia nekat untuk tetap memberikan pendidikan layak bagi anak-anak di kawasan terpencil. Dan bagi yang tidak punya uang, mereka diperkenankan masuk sekolah secara gratis.

Seperti yang terlansir di Net.com, Sekolah rintisan Nur Fadli memanfaatkan ruang yang ada di desa setempat. Salah satu yang digunakan yaitu musala. Untuk belajar, siswa didiknya terbiasa lesehan. Peralatan dan perlengkapan sekolah juga pakai apa yang ada.

“Ngajar di sekolah yang serba terbatas ini ada suka dukanya. Dukanya, kalau ada pelajaran harus ada alat peraga, ini tidak ada alat peraga sama sekali. Tapi murid di sini tidak pernah mempermasalahkan itu, yang penting ada gurunya. Saya juga berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan ilmu saya,” ungkap salah satu tenaga pendidik, Hidayat.

Mengelola sekolah juga tak ubahnya mengurus perusahaan. Fadli harus memikirkan bagaimana gaji guru, merawat bangunan, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan penunjang lainnya. 

Selain dikenal pandai mengajar, Fadli piawai beternak. Maka, ketika ada sekolah yang butuh biaya, dia tetap punya akal. Seekor kambing dibawanya ke desa tempat sekolah itu berdiri. Kambing itu kemudian ditawarkan ke warga sebisa mereka membayarnya. Uang penjualan itulah yang kemudian dipakai untuk memutar kas sekolah.

Bagi Fadli mengajar anak-anak di lereng gunung adalah sebuah anugerah sekaligus tantangan. Ia bersyukur bisa berinteraksi dengan putra – putri yang kebanyakan orang tuanya adalah buruh tani. Kini Fadli sudah memiliki ratusan siswa yang ia sekolahkan secara gratis. [Ar/dbs]

Sumber foto: netz.id

0
0
9
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan