Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Aksi Nyata! Serunya Belajar Antikorupsi di Stan KPK IIBF 2017

Gerakan Budaya Anti Korupsi menuju Indonesia yang bersih, jujur dan mandiri ini. Program yang merupakan “turunan” dari semangat dan nilai Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kali ini KPK mengajarkan budaya antikorupsi di stan Indonesia Inernational Book Fair (IIBF). KPK membuka dua stand di Indonesia International Book Fair 2017, 6-10 September 2017. Di setiap stan, ada kegiatan- kegiatan seru yang disiapkan untuk memberikan literasi antikorupsi kepada masyarakat.


"Intinya (kegiatan) KPK untuk mencegah (korupsi) ada beberapa produk. Salah satunya permainan. Ada10 macam permainan di sini, permainan papan dengan konten anti korupsi," ujar Rendra, kepada Republika.co.id, Kamis (7/9).


Di dalam setiap permainan disisipkan berbagai pertanyaan yang akan membangun pengetahuan para siswa tentang korupsi. Misalnya, dalam permainan monopoli. Di setiap titik terdapat pertanyaan yang harus dijawab untuk bisa melanjutkan fase selanjutnya.

"Apa arti kejujuran untuk kamu? Kenapa harus jujur?" ujar Rendra mencontohkan pertanyaan yang diberikan.


Menurut Rendra, tingkat pengetahuan yang diberikan disesuaikan dengan usia pengunjung. Untuk anak- anak, hal terpenting adalah menanamkan karakter-karakter baik yang akan mencegah mereka menjadi koruptor di kemudian hari.


"Soal pidana dan pasal-pasal nggak perlu tahu karena masih kecil," ujar dia. 

Total ada 22 relawan yang terlibat dalam gerakan literasi korupsi KPK di IIBF 2017. Dalam dua hari, telah ada sekitar 15 sekolah terlayani. Selain permainan dan cerita, ada juga beberapa souvenir yang  disiapkan untuk menggaungkan gerakan anti korupsi.


Di stand lain, KPK juga mengedukasi remaja dan dewasa. Ada teka teki yang disiapkan. Para peserta harus dapat menemukan 20 sifat baik di antara huruf-huruf acak. Apabila dapat merampungkan tugas itu, peserta boleh mengambil dua buku tentang korupsi secara bebas. Ada buku dongeng maupun buku- buku nonfiksi. Ada pula CD untuk edukasi antikorupsi. Para peserta juga boleh mengajukan permohonan materi antikorupsi untuk mengajar atau sosialisasi.


Seorang guru, Royansyah Rizqi, membawa 57 siswa kelas 1-3. Mereka ke IIBF dalam rangka kegiatan belajar di luar kelas (outing class).


Menurut dia, edukasi semacam ini penting untuk menumbuhkan ilmu dasar tentang gerakan anti korupsi kepada anak-anak. Di sekolah, para guru juga memberlakukan sistem infak untuk mengajarkan kejujuran kepada para siswa. Kotak infak itu dibiarkan berada di meja guru hingga dibuka sewaktu-waktu ketika ada kondisi tertentu. [Is]


Sumber: Republika.co.id

0
0
83
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan