Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
IDE PERUBAHAN
KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG TIDAK KREATIF, MEMBUAT ORANG MISKIN TAMBAH MISKIN DI INDONESIA

REVOLUSI MENTAL BERBASIS MINDSET, APA ITU?

Oleh Bambang Prakuso BSM. CEO Alfateta Indonesia Mind Power Academy. www.alfateta.com


 Indonesia Dalam Bahaya

Indonesia dalam bahaya. Semoga ini tidak membuat Anda kaget. Kenyataannya demikian. Fakta di hadapan mata, di Indonesia telah masuk puluhan ton Narkoba yang dimpor dari Taiwan. Jika sekarang saja jumlah orang yang tewas karena Narkoba 50 orang setiap hari., tidak tahu, berapa lagi anak bangsa ini akan bergelimpangan karena Narkoba.


Baru beberapa waktu lalu KPK menangkap tangan (OTT) koruptor. Eh… kemarin, dan semalam Kepala Daerah lainnya kena OTT.  Mengejutkan, 90% Kepala Daerah kata Kepala KPK berpotensi kena kasus korupsi. Bisa jadi maling tidak kebagian penjara karena penuh dengan koruptor.


Itu baru kasus Narkoba dan Korupsi… kasus lainnya? Banyak lagi… Sekarang karena Pancasila tak lagi populer, ramai-ramai orang kepingin mengubah ideologi Pancasila menjadi Kilafah. Maka orang atas nama agama menghalalkan segala cara. Menyebarluaskan Hoax. Terorganisir lagi. Sehingga muncul Saracen, MCA, dan lain-lain.  Akibatnya ribuan mahasiswa membait dirinya sebagai generasi khilafah. Nauzubika minzalik.


 

Orang Miskin Semakin Miskin

Ada lagi. Menurut BPS jumlah orang miskin sekarang ini sudah mencapai 30 juta jiwa. Orang miskin itu menurut kriteria BPS adalah mereka yang penghasilannya Rp 7.000 per hari. Rasanya orang penghasilan segitu sehari sudah tidak ada ya. Jadi rupanya orang yang Anda kira miskin di sekitar Anda termasuk tidak miskin, karena mereka masih punya rumah walau ngontrak, masih bisa makan minimal sehari 2 kali walau ngos-ngosan.  Padahal beberapa waktu lalu ada seorang pria mengeluh, anak dan istrinya belum makan sejak kemarin. Terus ada cewek mengeluh, dia 10 tahun hidup di emperan rumah orang. Tapi karena si bapak masih punya rumah, dan si cewek ada kerjaan, maka mereka tak terbilang orang miskin. Kalau pun mau dimasukkan kriteria “hampir miskin”.  Sayangnya dari presiden ke presiden belum ada yang berani menggeser kriteria miskin menjadi $2/hari. Kalau ada presiden yang berani angka kemiskinan akan melonjak menjadi ½ penduduk Indonesia miskin.


Indonesia memang banyak masalah. Selain perihal di atas masih terdapat permasalahan seperti pengangguran. Ada lebih dari 7 juta lulusan sekolah menengah dan S1 menganggur. Lowongan kerja semakin sempit. Karena kondisi politik dan ekonomi, banyak perusahaan gulung tikar dan merelokasi usahanya ke daerah lain atau ke Cina dan negara lainnya yang lebih kondusif. Celakanya lagi bahkan menulis lamaran pun S1 kita gak bisa. Lebih 90% lamaran mereka layak masuk keranjang sampah.


Tentu saja, implikasi dari pengangguran, kemiskinan dan kebodohan adalah meningkatnya tindak criminal. Kalaulah semua maling ditangkap, penjara Indonesia penuh. Padahal di negara yang dituding kafir seperti Belanda penjara kosong karena susah cari penjahat.


 

Mengapa semua itu terjadi?

Ada sebuah survey yang dilakukan UNESCO dan BPS. Indonesia termasuk negara paling malas membaca di dunia. Kita berada di urutan 61 dari 63 negara paling malas baca di dunia. Negara nomor 63 itu sebuah negara kecil di Afrika. Dibandingkan Malaysia, Filipina, dan Thailand, minat baca kita gak ada apa-apanya. Jika rakyat mereka sudah memiliki minat baca mencapai lebih 50% atau sudah membaca rata-rata 6 buku setahun, negara kita minat bacanya baru 0,1% (data sebenarnya 0,001%. Malu kalau dibuat segitu, karena kesannya negara ini kok bego banget). Jika rakyat Jepang mampu melahap 12 buku setahun, Belanda dan negara Eropa lainnya 22 buku setahun, kita 1 buku pun tidak. Ingat kata tukul…. Meng-ha-ru-kan… Sambil bibirnya dimenyonkan, matanya mendelik, dan tepuk tangan gaya monyet.


Sudahlah rakyatnya miskin, para pejabat kita masih banyak yang bermental birokrat. Mereka tidak kreatif memacahkan berbagai masalah, yang bikin presiden Jokowi kedodoran. Bayangkan begitu banyak program yang tanpa disadari membuat rakyat memiliki mindset miskin. Orang miskin majalah menjadi semakin miskin.

 

Bangsa yang kuat dan mampu bertahan bukan bangsa yang kaya sumber alamnya, pintar, dan kuat, tapi bangsa yang mau berubah, kata Charles Darwin. Kecerdasan manusia diukur dengan kemauannya berubah. Kita bisa mengubah siapa kita dan nasib bangsa kita dengan cara mengubah apa yang masuk ke dalam pikiran kita?


Apa yang masuk dalam pikiran bangsa kita? Kebanyakan sampah. Hoax. Berita fitnah, ujaran kebencian yang dibuat untuk kepentingan sesaat oleh para politisi busuk yang tidak pernah berpikir untuk menjadikan bangsa ini lebih baik. Gerbage in garbage out. Masuk sampah keluar sampah. Ucapan politisi busuk menciptakan rakyat busuk.


Mengapa bangsa kita terus tertinggal dan malah mundur terus?  Salah satunya kita akui, karena bangsa kita  malas membaca buku. Ini fakta, bukan hoax. Padahal salah satu cara untuk mengubah pola pikir dan menjadi cerdas adalah membaca buku.


Kita gak doyan baca buku, tapi menurut survey kita negara paling doyan mantengi internet, baik website atau sosial media. Kita doyan banget dengan gossip, infotainment, fitnah, gunjingan, hasutan dan ujaran kebencian. Kita sangat percaya  dengan hoax. Bukan cuma membaca tapi gemar mensharingnya. Kita gak peduli itu dari sumber abal-abal. Bahkan kita gak tahu atau gak peduli berasal dari blogspot, website yang bisa dibuat siapa saja. Seringkali baru baca 1 dari 30 alinea sudah main sharing. Sharing tanpa sharing. Giliran kena UU ITE cuma bisa bilang khilaf dan menyesal. Padahal sudah ada korban tewas dianiaya karena hoax itu.

 

Jika kondisi ini dibiarkan tanpa ada upaya membenahi mentalitas bangsa ini, maka Indonesia Dalam Bahaya! Kita dengan mudah meramalkan:

1.      Terjadinya chaos dan disintegrasi bangsa.

2.      Bangsa tertinggal dan  semakin terpuruk dalam segala bidang

3.      Kita akan dijajah dari jalur ekonomi

4.      Masuknya Narkoba ke pusat kekuasaan

5.      Keamanan yang semakin tidak terjamin

6.      Bangsa kita akan mudah diadu domba bangsa lain.

 

Sadarlah Bangsaku

Pemerintah sepertinya kehabisan akal, tidak kreatif memecahkan masalah bangsa ini. Maksudnya ingin memintarkan rakyat tapi justru membodohkan, mau menyehatkan tapi yang muncul justru masyarakat penyakitan, mau membuat masyarakat menjadi sejahtera justru memiskinkan.


Kebijakan memberi uang kepada peserta seminar membuat bangsa kita menjadi malas belajar kalau tidak ada uangnya. Kebijakan BPJS yang maksudnya membuat masyarakat sehat justru membuat  mental penyakitan di tengah masyarakat. Akibatnya BPJS rugi 9 Triliun. Ini bisa bikin negara bangkrut jika pemerintah tidak kreatif. Kebijakan BLT, Balsesm, dana bergulir adalah kebijakan yang sepertinya pro rakyat tapi justru menciptakan mental orang miskin. Akibatnya bangsa ini sulit sekali untuk mandiri dan sejahtera.


Ketidaksukaan bangsa ini membaca buku mengakibatkan kita menjadi bangsa yang tidak produktif dan konsumtif lagi. Berbagai program untuk mencintai produk dalam negeri dianggap angin lalu. Itu sesuai dengan mindset miskin, jika tidak punya ilmu akibatnya kita lebih senang membeli produk bangsa lain. Mereka bahkan merasa bangsa.  Lihat saja para buruh… Konon upah atau UMR kita melebihi bangsa lain di ASEAN, di sisi lain produktivitasnya rendah, tapi tetap saja tidak puas. Demo menuntut kenaikan upah, tapi sepeda motornya model Ninja. Demo menekan pengusaha, giliran pengusahanya lari tidak mau bertanggung jawab.


Karena malas membaca, kita tidak kreatif. Kita tak bisa bersaing. Kita lebih suka menggunakan produk asing daripada produk sendiri. Itu sebabnya kita mengimpor daging, gula, buah-buahan, bahkan sayuran dari negara lain. Lalu tanah yang subur ini mau diapakan? Ya biarin saja itu cuma ada di lagu.

 

Malas Membaca Malas Belajar

Jika survey membuktikan bangsa kita malas membaca, sebenarnya bukan hanya itu, tapi bangsa kita juga malas belajar. Bahkan niat belajar pun tidak ada. Sebagai penyelenggara pelatihan ini sangat dapat dirasakan. Banyak orang tidak mau menghadiri pertemuan atau seminar-seminar dengan alas an tidak punya uang atau tidak punya waktu. Bahkan kami pernah pernah membagikan voucher gratis kepada beberapa siswa agar mereka datang ke seminar Cara Melamar Kerja. Anehnya mereka tidak datang ke pelatihan yang menurut kami sangat penting bagi mereka. Jadi niat untuk belajar saja memang tidak ada.


Perilaku instan, telah membuat bangsa kita malas membaca dan belajar. Jika bisnis, kita ingin cepat kaya dengan usaha yang sedikit. Tak peduli biaya untuk bisnis itu mahal. Akibatnya pebisnis dari negeri jiran mudah sekali menipu bangsa kita. Sekali tipu bukan sejuta dua juta rupiah tapi ratusan juta rupiah. Dan anehnya tidak kapok. Ketipu lagi dan ketipu lagi. Akibatnya tidak lagi bisa membedakan mana bisnis yang benar dan tidak. Haaaa lucu sekali ya. Dulu mencari investor gampang di Indonesia, sekarang susah. Karena investornya sudah bangkrut karena tertipu. Tertipu karena kebodohan dan perilaku instant tadi. Mereka yang tertipu menjadi virus dan merusak mental bisnis orang yang mau bisnis dengan susah payah.

 


Cara Mengatasi

Tidak ada cara untuk mengatasi kondisi bangsa kita untuk bisa sejajar dengan bangsa lain di dunia ini kecuali, pemerintah segera menyadari kebijakannya yang tidak kreatif. Pemerintah harus menghentikan pembodohan kepada rakyat, seperti:


1.   Hentikan membayar peserta pelatihan. Dari pada membayar peserta pelatihan, gunakan uang yang ada untuk memperbanyak pelatih dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan.


2.   Cukuplah kita memperbanyak literasi. Yang penting sekarang adalah ajarkan Teknik membaca dan menulis cepat agar bangsa kita banyak membaca buku. Jika mereka banyak membaca buku maka pikirannya akan terbuka luas. Mereka akan bisa melakukan perbandingan dengan ilmu yang mereka miliki sebelumnya. Membaca akan mampu menghilangkan fanatisme sempit, dan merasa benar sendiri.


3.     Ajarkan ilmu menulis dan Bahasa Inggris. Banyak professor yang tidak bisa menulis artikel apalagi menulis buku. Para cendekia kita tidak mampu menulis di jurnal ilmiah internasional. Kita kalah dengan ilmuwan dari ASEAN lainya yang terlihat lebih cerdas karena banyak membaca buku, mampu menulis buku, dan mampu berbahasa Inggris.


4.      Ajarkan kepada bangsa Revolusi Mental yang Kreatif. Apa itu Revolusi Mental yang kreatif? Revolusi Mental yang didasarkan pada ajaran dan situasi kekinian. Kita tak cukup mengajarkan agama dalam Revolusi Mental, tetapi juga moral (berbasis ideologi Pancasila), Budi Pekerti berbasis budaya, tetapi juga Revolusi Mental yang didasarkan pada mindset yang bersumber pada Mind (PIkiran). Mengapa pikiran? Karena fakta menunjukkan, seorang sukses, kaya, bukan karena agama, budaya, atau ideologi, melainkan cara berpikir. Jikalah agama yang menjadi ukuran, maka agama Sinto atau Toa Pe Kong lah yang paling benar.


Revolusi Mindset

Alexander Paulus mengatakan, “80% keberhasilan ditentukan oleh mindset”  Kesimpulannya; kaya atau miskin, cerdas atau bodoh, jahat atau baik, susah atau bahagia adalah soal MINDSET. Tidak ada korelasinya dengan AGAMA, IDEOLOGI, atau BUDAYA tertentu. Semua berasal dari pola pikir manusia itu sendiri.


Tidak ada yang bisa mengubah pola pikir seseorang kecuali dirinya sendiri, tidak ada cara yang paling mudah mempelajari cara mengubah pola pikir kecuali mempelajari otak atau pikiran manusia.  Inilah dasar mengapa Alfateta memfokuskan diri perubahan mental berbasis pikiran.


Ilmu pikiran Alfateta berbasis Mind Power. Apakah Mind Power itu? Ilmu yang mempelajari otak manusia dan cara kerjanya.


Penting diketahui bahwa otak manusia sangat luar biasa. Terdapat 100 milyar neuron di dalam otak kita yang 1 neuron setara dengan 1 komputer tercanggih. Manusia umumnya baru menggunakan kurang dari 1% dari potensi pikirannya.


Ilmu mind power telah membantu banyak orang sukses di seluruh dunia dalam berbagai bidang, pendidikan, penyembuhan, kesuksesan dan kekuatan supranatural pikiran.


Jika ilmu ini diajarkan sejak dini, bangsa ini akan maju pesat. Fakta bahwa negara-negara yang menempatkan pemberdayaan pikiran di dunia akan maju. Salah satu contoh ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang pemberdayaan pikiran sehingga bangsa lain jauh lebih maju adalah pemanfaatkan ilmu-ilmu pikiran untuk membuat bangsa ini cerdas.  


Napoleon Hill (abad 20) telah mewawancarai 500 orang paling sukses di seluruh dunia. Dia menyimpulkan “Rahasia SUKSES adalah mereka berhasil memanfaatkan pikiran bawah sadarnya secara maksimal”. Bawah sadar adalah Inteligensia terbesar dalam otak manusia (Ralph Waldo Emerson).


Kunci bangsa Indonesia untuk bisa mengubah mindset dan memberdayakan pikiran adalah segera mind power diajarkan. Begitu mindset berubah, secepat kilat cara hidup, nasib, dan masa depan kita pun akan berubah.  Alfateta Indonesia


Alfateta Indonesia adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan untuk merealisasikan Indonesian Dream yakni terciptanya bangsa yang CERDAS, MANDIRI, SEJAHTERA, dan BERAKHLAK.  Indonesian Dream adalah sebuah impian yang teruji secara psikomagnetik. Impian ini harus dapat menjadi impian seluruh bangsa Indonesia. Jika semua bangsa Indonesia memegang impian ini maka dalam waktu singkat impian ini akan terwujud bagi bangsa Indonesia.


Untuk melaksanakan mimpinya itu, Alfateta Indonesia, sejak 2007 telah memulai pelatihan perubahan mental dengan judul Change Your Mindset berbasis Brain Power. Pelatihan telah diikuti oleh belasan ribu orang dari seluruh Indonesia dari berbagai kalangan. Selama hampir 10 tahun kami memberikan pelatihan tersebut kami berkesimpulan, Dekadensi Moral terjadi bukan karena pendidikan agama yang kurang, pendidikan Pancasila yang mulai ditinggalkan atau budaya bangsa yang mulai dilupakan, tetapi karena MINDSET yang SALAH.


 


 


 


 


2 PENDUKUNG
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan