Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
IDE PERUBAHAN
Jarimu Harimaumu

Sosial media membuat seseorang dapat berpendapat dan menulis dengan mudah bahkan terkesan tanpa batas. Dengan beralasan sebagai pemilik akun pribadi dari sosial media tersebut, maka tanpa penyaringan terlebih dahulu kita dapat mempublikasikan apa yang sedang kita lakukan, yang sedang kita pikirkan, dan yang sedang kita rasakan. Kita juga dapat membagi informasi sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya kepada khalayak ramai yang terkoneksi dengan jejaring media.

Namun, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Seharusnya penggunaan sosial media harus disikapi dengan bijak. Manfaat yang ditimbulkan dari sosial media juga sangat luas apabila penggunaannya juga digunakan dengan cara yang  baik. Bila ada pepatah “mulutmu adalah harimau mu” maka sekarang pepatah itu berganti menjadi “jarimu adalah harimau mu” apa yang  kita ketik di keyboard komputer atau telepon pintar maka itu adalah representasi dari si pemilik akun.

Mungkin masih segar diingatan mengenai kasus Florence Sihombing dengan masyarakat Yogyakarta. Saat Florence membuat status di media sosialnya Path mengatakan sesuatu yang buruk tentang masyarakat Yogyakarta. Dalam status Path, Florence mengatakan bahwa ““Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja.” Pada saat menulis hal tersebut, Florence kemungkinan tidak bepikir bahwa sesuatu yang telah di bagikan ke publik, maka itu menjadi milik publik. Jadi publik dapat menilai, mengomentari, bahkan menuntut statusnya tersebut. Hal ini sudah diatur dalam UU ITE No.11 tahun 2008 terkait penghinaan dan pencemaran nama baik dan provokasi mengkampanyekan kebencian. Kasus ini menjadi besar karena menjadi isu nasional yang akhirnya akan membuat Florence menyesal seumur hidupnya bahwa dia tidak akan pernah menuliskan status yang menebar kebencian lagi.

Saat ini juga banyak tersebar berita hoax yang dengan mudahnya menyebar dari status ke status di dinding sebuah platform sosial media. Tanpa dapat dibuktikan kebenaran dan keabsahan, sebuah informasi dapat dengan mudah merubah pola pikir seseorang dan menghancurkan orang lain atau sebuah instansi.

Sudah saatnya kita bijak menggunakan sosial media dan belajar menyebarkan informasi bermanfaat. Hentikan menyebar kebencian, status tak berguna, galau yang tak berkesudahan, dan informasi yang salah. Jangan menjadi jembatan dosa orang lain dengan membaca atau membagikan informasi yang tidak baik tersebut. Gunakanlah media sosial secara bijak. Cari kebenaran informasi yang Anda baca, jangan hanya karena informasi tersebut terlihat menarik maka Anda langsung menyebarkannya lewat media sosial. Mengapa? Karena salahnya informasi yang Anda berikan bisa berdampak buruk bagi orang lain. Karena jarimu adalah harimau mu.

2 PENDUKUNG
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan