Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
IDE PERUBAHAN
Dengan Sampah, Kini Masyarakat Kurang Mampu Bisa Merasakan Layanan Kesehatan: Klinik Asuransi Sampah

Indonesia diklasifikasikan oleh Bank Dunia sebagai Negara kelas ekonomi menengah kebawah. Sampai sekarang, keterbatasan sumber daya telah menjadi klise dari pelayanan kesehatan yang kurang baik bagi rakyat miskin. Walaupun, angka jaminan asuransi kesehatan masyarakat tingkat rumah tangga telah meningkat selama decade terakhir, lebih dari 60 persen dari populasi masih tetap tanpa jaminan. Data terbaru menunjukkan bahwa 18 persen dari popilasi melanjutkan hidup di bawah 1 US$ per hari, dan sekitar separuh hidup dibawah 2 US$ per hari. Setiap rumah tangga membelanjakan 2,1 persen dari total konsumsi mereka pada kesehatan, dengan rentang sekitar 1,6 persen untuk desil termiskin dan 3,5 persen untuk terkaya, yang secara relative rendah dibandingkan dengan Negara lain dengan tingkat pendapatan yang sama.

Hal ini diperparah oleh rendahnya sistem manajemen dari sampah padat kota, yang terkait dengan kematian dini, penyakit serius, dan turunnya kualitas hidup. Disisi lain, rumah tangga disediakan oleh pemerintah menjalankan pelayanan manajemen sampah diharuskan untuk membayar iuran pengumupulan mulai dari 1,10 US$ sampai dengan 3,2 US$. Bagaiamanapun juga, apapun usaha yang dilakukan oleh sektor pemerintah dan sektor swasta dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat hanya akan memiliki pengaruh signifikan jika diikuti oleh kesadaran individu dan masyarakat. Jika diorganisasikan, masyarakat dapat memobilisasi sumber daya mereka sendiri untuk memperbaiki pelayanan yang dibutuhkan.

Saya meyakini bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia. Namun, banyak orang dalam realitas tidak dapat mendaptkan akses kesehatan dikarenakan mereka tidak memiliki cukup uang dan biaya obat yang mahal. Indonesia memiliki masalah yang cukup besar terkait akses peplayanan kesehatan. Banyak orang tidak dapat mendapatkan akses pelayanan kesehatan dikarenakan faktor finansial. Sebagai contoh, kisah nyata dari seorang anak perempuan berusia 3 tahun, Khaerunissa, yang terjadi 5 Juni 2005. Dia adalah anak seorang pemulung berusia 38 tahun, Supriyono, yang hanya mendapatkan pendapatan Rp 10.000 setiap harinya. Dia menderita diare, tetapi dia tidak bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan dikarenakan biaya kesehatan yang tidak terjangkau. Pada akhirnya ia meninggal dikarenakan diare.

Dalam menanggapi, fenomena social ini, kemudian kami mulai berfikir bagaimana kami dapat menciptakan model keuangan kesehatan yang memungkinkan setiap orang mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

Sampah adalah solusi terbaik dikarenakan hamper setiap hari, setiap rumah memproduksi sampah yang tidak digunakan, sehingga setiap masyarakat bisa bergabung program ini. Sebagai contoh, area urban di Indonesia memproduksi lebih dari 55.000 ton sampah padat setiap hari, tetapi hanya 50-60 persen yang terkumpul.

Hal ini memotivasi kami untuk mengembangakan skema asuransi sampah sebagai sistem  keuangan kesehatan yang kami sebut Klinik Asuransi Sampah (KAS). Klinik Asuransi Sampah adalah asuransi kesehatan mikro yang menggunakan sampah sebagai sumber pembiayaan. Dengan program ini, masyarakat membayar pelayanan kesehatan dengan menggunakan sampai dalam skema asuransi. Dengan program ini, kami membuat masyarakat memobilisasi sumber daya yang terbuang untuk memperbaiki akses pelayanan kesehatan dan menghancurkan penghalang antara fasilitas kesehatan dengan masyarakat. Kami membuka akses pelayanan kesehatan.

Prinsip utama dari Klinik Asuransi Sampah adalah mengorganisasi komunitas untuk membuat sistem keuangan yang sustainable atau memiliki daya keberlangsungan dari sumber daya mereka secara mandiri dengan tujuan untuk memperbaiki akses dan kualitas program kesehatan masyarakat dari aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Di samping itu, hal ini menjadi dorongan untuk komunitas untuk memulai manajemen sampah yang tepar dan wirausaha sampah dari tingkat rumah tangga. Sampai tingkat tertentu, hal ini juga berkontribusi ke perbaikan sanitasi local. Klinik Asuransi Sampah meningkatkan nilai sampah secara signifikan, sehingga Klinik Asuransi Sampah juga memberdayakan setiap individu untuk memobilisasi sumber daya yang terabaikan dan mengambil peran aktif dalam manajemen keusngan kesehatan. Kami merubah persepsi dan kebiasaan dari komunitas terkait sampah dengan sistem inovasi baru dari skema asuransi sampah. Kami mempromosikan investasi kesehatan dengan sampah.

Secara praktis, masyarakat harus membayar iuran ke pemerintah untuk membuang sampah mereka, kami menawarkan masyarakat untuk memberikan sampahnya sebesar Rp 10.000 kepada kami, yang digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan secara holistic, membiayai pelayanan kesehatan kuratif, membuat program perbaikan kualitas kesehatan (promosi kesehatan), mencegah sakit (preventif), dan menyediakan pelayana kesehatan rehabilitatfi, dan lain sebagainya.

Dana yang digunakan untuk membuka klinik dicapai melalai berbagai cara, mulai menggunakan dana pribadi, bekerja sama dengan pemilik lahan, dan membuat kerjasama dengan pengusaha yang memiliki semangat wirausaha social, dan membuart perjanjian dengan sistem saham.

            Dalam asuransi kesehatan, hanya 10-15 persen dari anggota yang akan sakit dan menggunakan fasilitas kesehatan setiap bulan. Jika diasumsikan, jumlah pengguna asuransi di klinik sebesar 1.000 orang, dengan iuran sampah rutin sebesar Rp 10.000 setiap bulan, klinik akan mendapatkan pemasukan Rp 10.000.000. Sedangkan pembelanjaan kesehatan 15 persen dari 1.000 orang adalah 150 orang dan biaya pengobatan primer untuk setiap pasien adalah 30.000, klinik akan membelanjakan Rp 4.500.000. Sehingga, masih terdapat Rp 5.500.000 yang masih dapat digunakan untuk pengembangan skema asuransi sampah dan memperbaiki pelayanan kesehatan.

Tim kami fokus pada tahap pengembangan Klinik Asuransi Sampah menjadi replikasi secara massive dan pendekatan ilmiah untuk skema asuransi sampah baru ini dengan mengembangan program baru di wilayah lain (inisiasi), memastikan daya keberlangsungan (stabilisasi), dan kemandirian komunitas (independensi). Dalam pengembangan produk ini, kami menggunakan pendekayan ilmiah dan penelitian dalam membuat program rujukan sebagai role model atau asuransi mikro inovatif yang dapat dikembangkan.

Mengingat bahwa tujuan kesehatan masyarakat, pada prinsipnya adalah mengumpulkan potensi publik atau sumber daya yang ada di masyarakat itu sendiri untuk upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative dan dapat memanajemen sumber daya kesehatan secara mandiri, oleh karena itu salah satu fokus kami adalah membangun kemandirian program.

Klinik Asuransi Sampah adalah prototype dari sistem asuransi kesehatan mikro dengan pembiayaan melalui skema asuransi sampah yang dapat direplikasi di wilayah lain dan dapat diadopsi sebagai program pemerintah untuk memperluas kebermanfaatan.

2 PENDUKUNG
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan